Catatan Usang dari Pegunungan Tengah
Jauh sebelum alat berat merobek belantara Papua - jauh sebelum ada jalan, sebelum ada kota tambang, sebelum ada debat panjang di gedung parlemen - semuanya dimulai dari seorang pria muda yang berjalan sendirian di tengah hutan.
Namanya Jean Jacques Dozy. Seorang geolog Belanda berusia muda yang pada tahun 1936 mendaki Pegunungan Tengah Papua dalam sebuah ekspedisi ilmiah. Tidak ada yang tahu persis apa yang ia cari. Tapi di tengah rimbunnya hutan yang belum pernah dijamah dunia luar, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam.
Sebuah gunung batu yang seluruhnya hitam - namun berkilauan. Bukan kilauan cahaya biasa. Melainkan kilauan yang hanya bisa dihasilkan oleh satu hal: bijih tembaga murni yang menyembul langsung dari permukaan bumi.
Dozy menamainya Ertsberg - Gunung Bijih. Ia mencatatnya dengan teliti, dengan keyakinan seorang ilmuwan bahwa temuan ini penting. Bahwa suatu hari nanti, catatan ini akan dibutuhkan seseorang.
Dan ia benar. Hanya saja, ia mungkin tidak pernah membayangkan bagaimana catatan itu akan digunakan.
Catatan GeologiAnomali geologi Ertsberg tergolong langka secara ilmiah - bongkahan tembaga yang menyembul ke permukaan tanpa perlu pengeboran dalam. Di dunia pertambangan, ini disebut sebagai "surface outcrop" yang hampir tidak pernah ditemukan dalam skala sebesar ini di belahan dunia manapun.
Namun sejarah punya cara ironinya sendiri. Pecahnya Perang Dunia II menelan catatan Dozy ke dalam arsip yang terlupakan. Kertas itu hanya menjadi debu di perpustakaan Belanda - selama lebih dari dua dekade. Dan tanah Papua pun... kembali damai dalam kesunyiannya.
Ketika Catatan Itu Ditemukan Lagi
Di suatu sore di akhir 1950-an, seorang petinggi perusahaan tambang Amerika bernama Forbes Wilson secara tidak sengaja membuka laci arsip lama di sebuah perpustakaan Belanda. Di sana, di antara tumpukan dokumen yang sudah menguning, ia menemukan catatan Dozy.
Ia membacanya sekali. Lalu membacanya lagi. Tidak percaya.
Harta karun sebesar itu - tergeletak di permukaan tanah, menunggu selama dua dekade - dan tidak ada yang mengambilnya?
Wilson tidak menunggu lama. Ia memimpin ekspedisi pembuktian ke Papua - menembus hutan, mendaki pegunungan, mengikuti jalur yang pernah ditempuh Dozy dua puluh tahun sebelumnya. Dan di sana, berdiri tegak di hadapannya: Ertsberg. Persis seperti yang tertulis.
Di balik lebatnya hutan Papua, tersimpan cadangan tembaga dan emas yang cukup untuk menyuplai kebutuhan dunia. Bukan hitungan ton. Bukan hitungan dekade. Ini adalah temuan yang bisa mengubah peta ekonomi global.
Pertanyaannya kemudian hanya satu: bagaimana cara masuk?
Pergantian Rezim dan Pintu yang Terbuka
Papua bukanlah tanah yang mudah ditembus - bukan hanya karena hutannya yang pekat, tapi karena politik yang menghalangi. Di bawah Presiden Soekarno yang sangat anti-imperialisme asing, tidak ada ruang bagi perusahaan asing untuk masuk dan mengambil kekayaan bumi Indonesia.
Freeport menunggu. Dengan sabar, atau mungkin dengan perhitungan.
Lalu sejarah berubah drastis pasca-tragedi 1965. Lahirnya Orde Baru di bawah Soeharto membawa perubahan arah yang fundamental. Demi menyelamatkan ekonomi negara yang hancur, keran investasi asing dibuka selebar-lebarnya. Dan Freeport sudah siap di depan pintu.
Pemerintah Indonesia mengesahkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) pada Januari 1967 - sebuah regulasi yang membuka jalan bagi perusahaan asing untuk beroperasi di tanah Indonesia dengan berbagai kemudahan dan jaminan hukum.
Dan Freeport tidak melewatkan momen itu.
- Jan 1967: UU Penanaman Modal Asing (UU PMA) disahkan. Pintu investasi asing dibuka resmi oleh rezim Orde Baru.
- 7 Apr 1967: Freeport Indonesia menjadi perusahaan asing pertama yang menandatangani Kontrak Karya Generasi I dengan pemerintah Indonesia - hanya tiga bulan setelah UU PMA disahkan.
- 1967+: Konsesi lahan raksasa resmi diberikan. Hak eksploitasi awal selama 30 tahun. Alat berat mulai bergerak menuju jantung Papua.
Yang Perlu DipahamiKontrak Karya Generasi I ditandatangani hanya tiga bulan setelah UU PMA disahkan. Artinya, negosiasi dan persiapan sudah berjalan jauh sebelum regulasi itu resmi ada. Ini bukan kebetulan - ini adalah contoh bagaimana kepentingan bisnis dan momentum politik bisa bertemu dalam satu titik.
Satu Lembar Kertas, Efek Domino Panjang
Penandatanganan kontrak pada 7 April 1967 itu menjadi "pintu gerbang" pertama masuknya alat-alat berat pengoyak bumi ke jantung Papua. Tidak ada yang bisa menghentikannya setelah itu. Tidak ada lagi pertanyaan. Tidak ada lagi ruang untuk deliberasi.
Gunung dipangkas. Hutan dibelah demi akses jalan raya. Dan perlahan, lansekap alam bergeser menjadi area tambang raksasa.
Isu deforestasi, tergesernya ruang hidup masyarakat adat, konflik lahan, kerusakan ekosistem - semua yang kita debatkan hari ini, semua yang kita tulis di artikel dan media sosial, semua yang kita suarakan dalam demonstrasi - sejatinya adalah efek domino panjang dari satu lembar kertas yang diteken puluhan tahun silam.
Ini bukan soal menyalahkan satu pihak. Ini bukan soal menghakimi orang-orang yang sudah tiada. Ini tentang memahami bahwa sejarah bekerja secara akumulatif - setiap keputusan meninggalkan jejak yang jauh melampaui masa hidupnya.
Yang lebih mengusik adalah ini: saat kontrak itu ditandatangani, tidak ada satu pun perwakilan masyarakat adat Papua yang duduk di meja negosiasi. Mereka yang tanahnya dibicarakan, tidak pernah ditanya. Mereka yang hutannya akan dibelah, tidak pernah diberi tahu.
Bumi Papua sudah ada jauh sebelum Dozy menemukannya. Sudah ada jauh sebelum Forbes Wilson membaca catatan itu. Sudah ada jauh sebelum pena menyentuh kertas kontrak di Jakarta.
Dan di sana, di tengah pegunungan yang dulu berkilauan - ada manusia yang menghidupi tanah itu, yang merayakannya, yang menamai setiap lembahnya. Mereka juga bagian dari cerita ini. Bahkan mungkin, mereka adalah cerita yang paling penting untuk dibaca.
Sejarah tidak dimulai dari berita hari ini.
Ia dimulai dari catatan yang terlupakan, dari tanda tangan yang terburu-buru, dari keputusan yang dibuat tanpa mendengarkan semua pihak. Memahami akarnya bukan berarti pasrah - justru sebaliknya.
Karena kita tidak bisa mengubah apa yang tidak kita mengerti.
Arsip & Renungan · @arsip.peristiwa · Pinggir Jendela
